
Keterangan Gambar : foto kolase pp
Bekasi, parahyangan-post.com- Taman kanak-kanak Negeri 6 Kota Bekasi (TKN ) 6 Kota Bekasi, yang berlokasi di Komplek Pemda, Kecamatan Jatiasih, dibobol maling. Kejadian baru diketahui Selasa (6/1/26) sekitar jam 05.00 wib pagi, saat Office Boy Andri Syaputra akan membersihkan halaman sekolah. Ketika ia membuka gerbang pagar, ia heran karena gemboknya diikat dengan tali sepatu dari dalam. Setelah ikatannya berhasil dicopot, dan pagarnya dibuka, ia segera masuk ke ruangan utama sekolah.
Alangkah kagetnya dia. Ruangan berantakan, semuanya acak-acakan.
Ia segera menelpon kepala sekolah. Tetapi hp-nya tidak bisa nyambung (tidak ada pulsa), karena biasanya dia memakai wifi milik sekolah. Tetapi Wifi saat itu ternyata tidak aktif (dibongkar maling).
Andri kemudian ambil inisiatif melaporkan ke guru yang rumahnya paling dekat dengan sekolahan. Guru tersebut kemudian memberi tahu kepala sekolah.
”Saya mendapat informasi pertama dari Bu Maswati. Mendapat informasi itu, saya tentu saja panik dan langsung berangkat ke sekolah. Atas saran suami sebaiknya saya melaporkan langsung ke Posek Jatiasih terlebih dahulu. Kebetulan lokasi Polsek tidak jauh dari Sekolah, maka saya langsung ke Polsek,” tutur Kepala Sekolah TKN 6 Kota Bekasi, Ary Mugiasih kepada parahyangan-post.com.
Di Polsek Jatiasih ia diterima Pak Ferdi. Pak Ferdi meminta dia duluan ke lokasi, Petugas akan menyusul belakangan. Ferdi juga mengingatkan untuk sementara, barang-barang yang diacak-acak maling tidak disentuh sebelum dia datang
”Sesampai saya di sekolahan,” lanjut Bu Ary, “ beberapa guru sudah datang. Juga Ketua RT dan anggota Linmas. Kondisinya benar-benar berantakan. Seperti habis gempa. Beberap pintu dan jendela dicongkel. Semua laci guru dibuka, lemari diobrak-abrik. Ruangan saya diaduk-aduk. Brangkas sekolah dibuka. Untunglah di situ tidak ada uangnya, ” terang Ary.
Sepertinya, maling itu belum sempat membawa semua barang-barang berharga. Padahal sudah diikat-ikat siap diangkut. Termasuk Wifi dan CCTV yang sudah dicopot-copotin.
Sebagian barang itu menumpuk di depan pintu utama. Sebagian lagi di ruangan samping. Lucunya tv belajar lebar yang baru datang (kotaknya belum dibuka) sudah diangkut ke luar gedung tapi belum sempat melintasi luar pagar. TV itu disandarkan ke dinding dalam pagar samping kanan sekolah.
”Nah, yang lebih celaka lagi, sound system dan sejumlah peralatan kantor (yang sudah diikat-ikat) berhasil dibawa ke luar komplek sekolahan dan diletakkan di kebun kosong. Tapi belum sempat dibawa,” tambah Ary.
VDR Wifi Bisa dibaca
Tidak lama kemudian, lanjut Ary, Pak Ferdi dan satu anggota polisi lainnya datang untuk melakukan penyelidikan. Mereka mengidentifikasi barang-barang, mengambil foto dan kondisi barang.
Setelah melakukan pengindentifikasian, polisi tmembolehkan mengumpulkan lagi semua barang yang berserakan itu.
Untugnya Video Data Recorder (VDR) CCTV tidak diambil, tapi kameranya dicopot. Atas bantuan penyedia layanan CCTV , data video bisa buka.
Dalam rekaman data itu kelihatan maling hanya satu orang. Dia masuk ke komplek sekolah sekitar jam 21.50 wib (tanggal 5/1/26), melalui pagar sampai kanan, kemudian ia mulai beraksi di dalam ruangan sekitar jam 22.20 wib.
“Semua rekaman CCTV sudah kami berikan kepada polisi. Saya juga diminta untuk melihat/menyerahkan rekaman CCTV tetangga kalau ada. Nanti kalau udah dapat akan kami serahkan,” tambah Ary.
Setelah didata semuanya, ternyata barang yang sempat dibawa maling adalah 2 buah printer, dan sejumlah barang pribadi milik guru.
“Yang kami laporkan adalah 2 printer inventaris sekolah. Kami diminta untuk datang lagi ke kantor polisi Jatiasih untuk memberi keterangan lebih lanjkut, Jumat, (9/1/26), setelah sholat Jumat,” tutup Ary.***






LEAVE A REPLY